Dari Cangkang Udang untuk Kebun Sayuran dan Buah, Petani Batu Raja Belajar Aplikasi Khitisan untuk Kendalikan Penyakit Tanaman

Bengkulu Utara – Limbah cangkang udang diperkenalkan sebagai bahan biofungisida untuk membantu menjaga kesehatan tanaman sayuran dan buah. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (UNIB) melatih petani Desa Batu Raja Kecamatan Hulu Palik, Kabupaten Bengkulu Utara, mengolah dan mengaplikasikan kitosan yang berasal dari cangkang udang.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Batu Raja pada 7 Oktober 2026 itu menyasar persoalan penyakit tanaman yang selama ini dihadapi petani, terutama pada komoditas cabai. Antraknosa atau patek, penyakit layu, hingga virus mosaik menjadi sejumlah gangguan yang dapat menurunkan hasil panen dan menyebabkan kerugian.

Selama ini, pengendalian penyakit tanaman masih banyak mengandalkan penyemprotan pestisida kimia secara berulang. Tim UNIB menjelaskan, ketergantungan tersebut berpotensi memicu resistensi organisme penyebab penyakit, meningkatkan biaya produksi, serta menimbulkan risiko terhadap lingkungan dan kesehatan.

Narasumber kegiatan, Dr. Mimi Sutrawati, menjelaskan kitosan memiliki dua fungsi dalam perlindungan tanaman, yakni menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri penyebab penyakit serta merangsang sistem pertahanan alami tanaman.

“Kitosan bekerja dengan dua cara. Ia menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri penyebab penyakit, juga mampu membangunkan sistem pertahanan alami tanaman. Bahannya dari limbah, sehingga lebih murah dan tidak mencemari lingkungan,” jelas Dr Mimi Sutrawati.

Pelatihan tidak hanya membahas manfaat kitosan, tetapi juga dimulai dengan pengenalan kondisi tanaman sehat dan sakit. Petani diajak mengidentifikasi gejala penyakit yang disebabkan jamur, bakteri, maupun virus, khususnya pada tanaman cabai.

Setelah itu, peserta mengikuti praktik pembuatan larutan kitosan dengan takaran 5 hingga 10 gram per liter, yang dilarutkan menggunakan asam asetat 1 persen sebelum diencerkan dengan air dan diaplikasikan melalui penyemprotan.

Tim juga membagikan sampel kitosan agar petani dapat mengujicobakan bahan tersebut di lahan masing-masing. Pengamatan dan pendampingan berkala disiapkan untuk melihat penerapan teknologi tersebut, sementara pemahaman peserta diukur melalui kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan.

Kegiatan ini melibatkan tiga dosen Fakultas Pertanian UNIB, yakni Dr. Mimi Sutrawati, Dr. Tunjung Pamekas, dan Deri Gustian, M.Sc., bersama empat mahasiswa Program Studi Proteksi Tanaman. Hadir pula Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Bengkulu Utara, H. Juwita Abadi, S.P., Sekretaris Desa Batu Raja, perangkat desa, penyuluh pertanian, serta kelompok tani.

Kerja sama pendampingan petani ke depan juga mendapat dukungan kelembagaan melalui Implementation Agreement yang telah ditandatangani Dekan Fakultas Pertanian UNIB dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Utara. Melalui program ini, petani diharapkan memiliki alternatif pengendalian penyakit tanaman yang dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetik sekaligus mendukung produksi pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *