Bengkulu Malboronews.com – Peristiwa tragis di Kampung Bahari, Kota Bengkulu pada Senen (14/9/2026) menjadi tamparan keras. Seorang wanita berusia 21 tahun yang berstatus relawan SPPG Padang Serai tewas ditikam oleh rekan kerjanya sendiri yang merupakan anggota Satpam.
Pelaku mengaku nekat melakukan perbuatan tersebut karena tersinggung. Korban disebut kerap mengejeknya dengan kata “HITAM”.” Ujar Pelaku”.
Kasus ini bukan hanya soal kriminal. Ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua: lisan bisa menjadi petaka.
Kronologi Singkat & Motif Tersinggung
Berdasarkan pengakuan tersangka kepada pihak berwajib, pertengkaran berawal dari candaan yang berulang. Korban sering melontarkan kata “hitam” kepada pelaku. Bagi pelaku, ucapan itu menumpuk menjadi luka, dendam, dan akhirnya meledak menjadi tindak kekerasan.
Polisi kini masih mendalami kasus ini. Secara hukum, perbuatan tersangka tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun.
“Pertanyaan Biasa” yang Menyimpan Luka.
Kasus ini membuka mata kita. Seringkali tanpa sadar kita melontarkan pertanyaan atau candaan yang bagi kita “biasa saja”, tapi bagi orang lain bisa jadi pisau.
Mulai dari:
_”Kapan nikah?”_
_”Kapan punya anak?”_
_”Kapan kamu kaya?”_
_”Mengapa kamu hitam?”_
Bagi yang tidak mengalami, mungkin ini hanya obrolan. Tapi bagi yang mengalaminya, kalimat-kalimat itu bisa menyimpan duka, minder, hingga dendam yang mendalam. Karena kondisi mental dan cara menerima ucapan setiap orang berbeda-beda.
*Pesan Rasulullah: Jaga Lisanmu*
Ratusan tahun lalu Rasulullah SAW sudah mengingatkan. Dari Abi Umamah, dari Uqbah bin Amir al-Juhaniy bertanya kepada Rasulullah Saw.:
“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”
Sabda Rasulullah Saw.:
“Jaga lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (betah tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu” (HR. At-Tirmidzi).*
Hadits ini relevan hari ini. Satu kata bisa menyembuhkan, tapi satu kata juga bisa membunuh.
Harapan
Semoga kasus di Kampung Bahari ini menjadi pelajaran terakhir. Mari biasakan berpikir sebelum bicara. Menghargai perbedaan fisik, kondisi, dan jalan hidup orang lain.
Karena kita tidak pernah tahu, seberapa dalam luka yang kita toreh hanya dengan lisan.
Reporter: Tim Malboronew.com
Editor: RINA JUNIATI,S.I.Kom

